Tak banyak yang tahu Pulau Penibung di masa lalu menyatu dengan daratan Kabupaten Mempawah. Laut yang kini memisahkan kedua wilayah itu dahulu adalah daratan berupa hamparan hutan mangrove. Luasnya puluhan kilometer persegi. Banyak aktivitas warga yang berlangsung di kawasan tersebut. Pernah ada pabrik di zaman Jepang, lapangan tembak TNI, hingga tambak udang.

SEMUA itu tinggal cerita yang didengar dari penuturan orang-orang tua. Bahkan berdasarkan penelusuran Pontianak Post pertengahan April 2019 lalu, hanya tersisa satu orang saksi hidup yang tahu kondisi sekitar Pulau Penibung kala itu.

Dialah Dulsiam (84). Dia mengaku pernah berdiam di bagian yang saat ini sudah menjadi pulau. Menurutnya, semua itu bisa terjadi akibat abrasi.

BERJUANG MENYATUKAN PENIBUNG

MEMPAWAH- Penanganan dan Penanggulangan abrasi pantai Desa Pasir dilakukan sejak tahun 2011 lalu. Upaya ini bermula dari gagasan dibentuknya Mempawah Mangrove Conservation (MMC). Saat itu Raja Fajar Azansyah Koordinator MMC dan rekan-rekannya khawatir melihar abrasi yang terus mengikis wilayah daratan Desa Pasir.

“Munculnya ide mendirikan MMC karena kepedulian kami terhap dampak abrasi pantai di Kabupaten Mempawah termasuk di desa pasir kami memikirkan apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi permasalahan ini. Salah satunya adalah dengan menanam mangrove,”ucap Fajar.

Pria yang kini menjabat Kepala Bidang Pariwisata di Dinas Pendidikan, Pemuda Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Mempawah itu mengaku tahu betul kondisi pesisir di Kabupaten Mempawah. Sebab ia dan rekan-rekannya yang mendirikan MMC juga bermukim di wilayah itu.

“ Bahkan rekan-rekan kami juga pernah mengalami dan merasakan dampak abrasi tersebut,” katanya. Fajar menerangkan upaya penanaman mangrove di lakukan secara mandiri. Dia dan rekan-rekannya melakukan pembibitan dengan memanfaatkan propagul yang ada di wilayah sekitar.

Pada dua tahun pertama mereka menggunakan dana pribadi. Barulah pada tahun ketiga pihaknya mendapatkan dukungan dan bantuan dari pihak lain melalui program tanggung jawab sosial (CSR) perusahaan.

Namun tantangan yang paling besar yakni mengedukasi masyarkat agar tidak menebang mangrove,” imbuhnya. Di awal-awal ia mengaku kesulitan mengajak masyarakat untuk ikut menanam mangrove. Namun seiring waktu, Fajar dan kawan-kawan bisa membuktikan keberhasilan konservasi mangrove di pesisir pantai. Akhirnya pemahaman masyarakat pun mulai tumbuh. Kini sudah tidak ada lagi yang menebang pohon mangrove untuk di jadikan kayu bakar.

Sejak tahun 2011 hingga sekarang MMC telah menanam kurang lebih 300 ribu pohon mangrove di pesisir pantai Kabupaten Mempawah. Upaya konservasi pun sudah lebih massif dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat.

“Untuk satu hektare hutan mangrove di butuhkan 10 ribu pohon maka kawasan yang sudah tertanam saat ini sekitar 30 hektare. Mudah-mudahan dapat terus bertambah secara alami,’katanya. Seiring waktu upaya konservasi mangrove terus berkembang dan menjadi berkah. Bahkan MMC mengembangkan wilayah konservasi menjadi ekowisata hutan mangrove di Kabupaten Mempawah yang di beri nama Mempawah Mangrove Park (MMP) di Desa Pasir. Kini, MMP menjadi daya tarik wisatawan lokal bahkan mancanegara.

“Berkembangnya mangrove menjadi tempat wisata berwula ketika kami melakukan kampanye Save Mangrove dari sekolah ke sekolah. Dengan adaya hutan mangrove menjadi ekowisata maka kami tidak lagi sulit mengampayekan mangrove kelingkungan sekolah. Mereka datang sendiri ke MMP. Setiap pengunjung otomatis mendapatkan edukasi tentang hutan mangrove,”pendapatnya.

Meski telah berhasil melakukan konservasi mengedukasi masyarakat hingga membangun ekowisata hutan mangrove, Fajar dan reken-rekannya tidak melupakan mimpi besar untuk mengembalikan daratan Pulau Penibung. Namun dia mengatakan butuh kerja keras dan komitmen semua pihak.

“Kami tidak mau memberikan harapan berlebihan. Paling tidak Pulau Penibung bisa lebih dekat dengan daratan. Saat ini kami sudah mendapatkan 100 meter lahan baru yang terbentuk dari hutan mangrove. Ini menjadi bukti bahwa menyatukan Pulau Peninbung bukan hal yang mustahil ,”tegasnya.

Untuk mewujudkan mimpi itu, Fajar memperkirakan butuh waktu yang panjang. Di mengilustrasikan untuk 100 meter daratan yang tercipta dari hutan mangrove dibutuhkan waktu penanaman sekitar tujuh tahun dengan total pohon sekitar 200 ribu batang.

“Jadi untuk mencapai Pulau Penibung kita butuh menanam jutaan pohon mangrove. Namun mimpi ini tidak mustahil. Sebab sejumlah pihak siap memberikan dukungan. Tinggal bagaimana kita menyakinkan mereka bahwa dana yang dialokasikan untuk konservasi direalisasikan dengan maksimal,” pendapatnya.

Sumber: Pontianak Post, Jum’at, 3 Mei 2019

0Shares

Leave a Comment