Bupati Kubu Raya, Muda Mahendrawan, mencanangkan Gerakan Membacakan, Kamis (30/1). Gerakan Membacakan adalah gerakan inovasi literasi yang bertujuan membangun karakter dan kemampuan literasi pada peserta didik.

SELAIN menumbuhkan minat baca, gerakan membaca bertujuan membangun rasa percaya diri, mengembangkan dasar relasi hubungan sosial, dan meningkatkan kemampuan berkomunikasi pada anak.

 Kegiatan pencanangan dihindari 586 orang peserta yang terdiri atas 61 pengawas/penilik, 377 kepala sekolah dasar negri dan swasta, dan 148 kepala sekolah menengah pertama negri dan swasta.

 Pencanangan di aula Kantor Bupati Kubu Raya ditandai penyerahan secara simbolis Peraturan Bupati Kubu Raya

Nomor 3 Tahun 2020 tentang gerakan membacakan kepada perwakilan kepala sekolah. Selain itu, diserahkan modul kepada perwakilan siswa SD dan SMP.

“Kalau gerakan membaca itu sudah jelas dari dulu. Dan ternyata budaya baca di negri ini masih sangat rendah. Sekedar membaca sendiri pintarnya juga pintar sendiri. Mungkin banyak anak yang pintar, tapi kemampuan tapi kemampuan komunikasinya sangat lemah. Nilainya baik tapi belum tentu sukses ke depan. Padahal, kepemimpinan dalam level apapun perlu kemampuan komunikasi,” tutur Muda. Muda menyebut Gerakan Membacakan bukan gerakan instan. Alih alih sekedar gagah – gagahan. Menurutnya, Gerakan Membacakan adalah bagian dari panggilan rasa tanggung jawab kepada generasi. Ia menerangkan, gerakan tersebut terinspirasi dari beberapa sekolah alam disejumlah negara maju. Di mana kemampuan berkomunikasi anak – anak di negara itu bisa optimal.

“Dalam aktivitas membacakan, ada kontak antara pembaca dan pendengar. Nah, tentu itu membutuhkan adanya suatu kemampuan untuk anak bisa membuka relasi dan keberanian untuk percaya diri membacakan kepada siapapun dilingkungannya,”tuturnya.

Muda menyebut, Gerakan Membacakan juga menjadi upaya untuk anak bisa menghargai buku sebagai sumber ilmu. Sekaligus sebagai opsi baru berkegiatan yang dapat mengalihkan anak dari ketergantungan gadget atau gawai. Bahkan menurutnya, keberadaan gawai harus dimanfaatkan untuk mendukung pelaksanaan Gerakan Membacakan. “Jangan sampai anak – anak hanya berkelindan dengan gawai. Nanti dokumentasi itu disampaikan kepada guru,” jelasnya. Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kubu Raya, Lugito mengatakan adanya peraturan Bupati Nomor 3 Tahun 2020 tentang Gerakan Membacakan menjadi penguat bagi Dinas Pendidikan untuk segera menerapkan hal itu disetiap satuan pendidikan SD dan SMP.

Yang menjadi target adalah peserta didik kelas 4, 5, 6 SD dan 7, 8, 9 SMP. Lugito berharap, masifnya Gerakan Membacakan dapat berpengaruh besar terhadap perubahan pada angka usia sekolah. “Selama ini, usia sekolah kita baru 6,8 tahun, artinya rata – rata penduduk Kubu Raya baru kelas 1 SMP. Tapi kalau ini nanti bisa dilakukan, orang – orang yang selama ini tidak berpendidikan mungkin bisa ikut paket A, B dan C. Maka itu juga akan meningkatkan angka partisipasi masyarakat ke dalam dunia pendidikan,” sebutnya.

Psikolog Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, Rika Indarti mengapresiasi Gerakan Membacakan yang dicanangkan Bupati Muda. Ia menilai dengan aktivitas membacakan, anak belajar untuk percaya diri