PONTIANAK - Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI telah menetapkan sebanyak tujuh Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) asal Kalimantan Barat Tahun 2020.

Tujuh WBTB ini berasal dari beberapa daerah kabupaten dan kota se Kalbar.  Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalimantan Barat Sugeng Hariadi mengatakan tujuh karya budaya ini merupakan usulan  dari masing-masing kabupaten dan kota.  “ Setiap tahun kami diminta mengusulkan karya budaya  untuk kemudian ditetapkan sebagai warisan  Budaya Tak Benda,” jelas Sugeng di Pontianak, kemarin.  Menurutnya penetapan ini menjadi kebanggaan masyarakat Kalimantan Barat.  Apalagi Kabupaten dan kota tidak hanya mengusulkan saja namun disertai dengan naskah akademis, “  Naskah akademis itulah yang menjelaskan kenapa karya budaya itu layak diusulkan.  Baik itu bahasa maupu tarian  atau budaya lainnya,”kata Sugeng.

Sugeng mengapresiasi kerja keras dinas pendidikan dan kebudayaan  kabupaten dan kota yang mempersiapkan persyaratan dalam penetapan Warisan Budaya Tak Benda.  Ia meyakini Kalimantan Barat memiliki banyak karya budaya, sehingga ia berharap ke depan bisa digali lebih dalam agar lebih banyak diusulkn lagi ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak benda.

Semakin banyak yang ditetapakan maka banyak sekali Warisan Budaya yang perlu dijaga dan dilestarikan, “kata Sugeng

Dihubungi terpisah, Kabid Pembinan dan Kebudayaan Disdikbud Kalbar Suhardi mengungkapkan,  tujuh WTB asal Kalbar tahun 2020 antara lain, bahasa Melayu Pontianak dari kota Pontianak, bahasa Melayu Sambas dan Zikir nazam dari Kabupaten Sambas.  Lalu Jimot lulun dan jimot renai serta tenun ikat kumpangilong dari Kabupaten Sekadau, jepin langkah penghibur pengantin dari Kabupaten Kubu Raya dan yang terakhir cap go meh dan tatung dari Kota Singkawang.

Suhardi menceritakan, usulan WBTB dari Kalbar sudah berproses  sejak Januari lalu.  “Dibulan Januari itu semua usulan dari Kabupaten /Kota, kami usulkan ke pusat untuk diseleksi,” ungkapnya kepada awak media, Jum’at (9/10).

Dalam seleksi tersebut dilaksanakan beberapa tahapan oleh pihak Kementerian.  Pertama semua usulan yang sudah terdaftar harus meleawati tahap verifikasi. Verifikasi biasanya dilakukan oleh pusat  dengan datang langsung ke daerah asal WBTB yang diajukan pada bulan Agustus.  Namun karena kondisi pandemi  Copid-19, untuk tahun ini cukup dilihat dari usulan,  kelengkapan berkas dan kesiapan para maestro atau pakar saja.

Selanjutnya sesuai jadwal yang ditetapkan, di bulan September merupakan pelaksanaan sidang penetapan WBTB.  Lagi-lagi karena pandemi Copid-19, sedang yang biasanya dilaksanakan secara tatap muka harus diubah menjadi  daring menggunakan zoom meeting.  Serta ada pemunduran  jadwal dari September menjadi Oktober.” Alhamdulillah untuk Kalbar mendapat sesi kesembilan di hari Kamis (8/10),  Kemarin yang seyogyanya Kadis (Kepala Dinas) yang memaparkan, sehubungan dengan kondisi beliau yang tidak sehat maka diwakilkan kepada Kabid Pembinaan dan Kebudayaan,” jelasnya.(mse/bar)

Sumber : Pontianak Post