SINTANG - Museum Raya Sintang menggelar pameran untuk mengenalkan teknologi temporer lokal kepada generasi muda.  Hal ini juga bertepatan dengan hari jadinya yang ke-12 sekaligusHari Museum Nasional ke -5.  Pameran ini berlangsung dari 12 sampai 15 Oktober 2020.  

Pejabat Sementara (Pjs) Bupati Sintang, Florentinus Anum mengatakan museum tidak boleh hanya dilhat sebagai tempat kumpulan benda-benda sejarah dan budaya.  Tetapi juga suatu yang memiliki nilaimsejarah  peradaban di suatu daerah.  Oleh karenanya museum harus terus hidup dan bisa menyesuaikan dengan perkembangan zaman.

Museum itu sebagai media agar kita bia melihat dan merasakan betapa pentingnya peradaban masa lalu.  Peradaban masa lalu dengan peninggalannya perlu kita budayakan,” ujarnya, Senin (12/10).

Hal yang perlu kita budayakan, jelas Anum, adalah nilai-nilai martabat kemanusian yang ada pada masa lampau.  Nilai anutan yang sangat sakral  pada masanya itu, menurutnya perlu dianut  pada masa sekarang.

Anum mengatakan, budaya yang terbentuk suatu daearh selalu dipengaruhi oleh lingkungan.  Ia membagi Sintang menjadi beberapa zona Budaya.

Sintang , ucap Anum, merupakan zona kebudayaan yang heterogen dalam hal etnisitas,” Di sini ada berbagai macam budaya, suku dan adat istiadat.  Itu yang sebut karakter sosio-budaya heterogen, “ katanya.

Selain itu ia juga mengatakan bahwa budaya sungai lekat dengan masyarakat Sintang,   Anum mengklaim bahwa hampir 95 % penduduk Sntang bermukim di pinggiran sungai .  “Sintang ini adalah kota sungai.  Dimana pada masa lalu sungai adalah jalur transportasi utama,” katanya.

Posisi pemukiman yang beradadi dekat sungai membuat budaya yang terbentuk juga berhubungan dengan mata pencaharian di sungai.   Seperti menangkap ikan serta alat-alat yang digunakan.

Anum berpesan agar museum agar Museum Raya Sintang tidak hanya menampilkan dan merawat benda yang sudah ada.  Tetapi terus mengekslorasi penunggalan peradaban  yang masih tersisa di Sintang.

Ia berharap Museum Raya Sintang dapat menjadi alat untuk mngerem arus kebudayaan barat yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa.   Sekaligus mengembalikan generasi muda keakar kebudayaannya. “Nilai-nilai budaya lokal itulah yang menjadikan kita sebagai orang Indonesia Sejati,” pungkasnya.

Sedangkan, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kadisdikbud)mKabupaten Sintang, LindraAzmar mengatakan bahwa pameran ini adalah salah satu pemberdayaan dan pemanfaatan objek pokok kebudayaan, yaitu teknologi tradisional di Sintang.  Ia berharap pameran ini dapat memperkenalkan sekaligus memberikan motivasi untuk melestarikan alat-alat  tradisional yang ada di Sintang.

“ Kepada masyarakat pada umumnya.  Juga khususnya kepada pelajar dan generasi muda.  Karena minimnya pengetahuan anak-anak masa kini terhadap alat-alat tradisional yang ada di Sintang,” ujarnya, Senin (12/10).

Pameran ini juga, tambah Lindra, diharapkan dapat meningkatkan minat pelajar untuk mengunjungi Museum Kapuas Raya.  Selain itu, diharapkan dengan pengetahuan dan kecintaan anak-anak muda di Sintang terhadap budayanya,  dapat meningkatkan karakter yang berdasarkan pada kebudayaan setempat.” Di sini juga dapat meningkatkan budaya membaca di kalangan generasi muda.  Karena di sini ada buku bacaan dan arsip yang bisa dibaca,” katanya.

Ia juga mengatakan, akan ada rangkaian talkshow yang akan mengisi pameran ini.  Seperti ketrampilan wanita dalam membuat kue tradisional, teknologitradisional dalam menumbuk padi, ketrampilan wanita dalam membuat tenunan ikat Sintang dan kesenian tradisional beberapa alat musik.(ris)

Sumber : Pontianak Post