oleh Jamilah

Dengan memberdayakan perpustakaan secara maksimal, perpustakaan dapat mengembangkan dan meningkatkan aktivitas   layanannya dalam segala aspek sebagai suatu bahan kebijakaan dalam rangka pengembangan perpustakaan itu sendiri. Perpustakaan kita kenal sebagai tempat peminjaman buku atau pustaka non buku yang dijadikan sebagai suatu ujung tombak pelayanan. Biasanya koleksi yang dipinjamkan adalah koleksi jenis buku dan fiksi yang paling banyak dibutuhkan pemustaka tradisional. Koleksi lain seperti jurnal, hasil-hasil penelitian, referensi, makalah ,seminar, tesis dan disertasi cenderung diminati oleh pemustaka tertentu. Mereka menggunakan koleksi tersebut dalam rangka menyusun tulisan, melakukan penelitian atau menganalisis kebijakan. Perpustakaan perlu melakukan pengembangan koleksi memperbaiki sistem layanannya serta melakukan promosi perpustakaan secara ekstra.

Kegiatan peningkatan pelayanan perpustakaan  Saat ini  bertujuan untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat di bidang layanan jasa perpustakaan, untuk mengetahui seberapa besar minat masyarakat terhadap perpustakaan, meningkatkan minat baca masyarakat, meningkatkan pengguna teknologi informasi dan komunikasi, dan memperluas jangkauan pelayanan kepada pemustaka / masyarakat.  Kegiatan pelayanan perpustakaan juga di fasilitasi dan operasional sistem layanannya  harus didukung dengan sumber daya manusia perpustakaan yang lebih kompeten agar dapat memberikan layanan yang baik kepada masyarakat.

Pemberian layanan kepada pemustaka dalam memperoleh informasi dan penggunaan fasilitas perpustakaan dapat dilaksanakan secara manual maupun berbasis teknologi informasi. Layanan secara manual/tradisional yaitu pelaksanaan layanan menggunakan perlengkapan non elektrik (kartu katalog, kartu buku, buku peminjaman dan lain-lain. Layanan berbasis teknologi informasi dalam pelaksanaan memerlukan ketrampilan dan keahlian teknis serta teknologi informasi. Selain ketrampilan tersebut juga diperlukan adanya sarana dan prasarana pendukung (perangkat komputer yang meliputi hardware dan softwarenya) dan segala sarana pendukung lainnya. Sarana seperti perangkat komputer dan sarana pendukungnya berperan sebagai alat untuk mengakses data dan informasi melalui  sistem intranet (server lokal) maupun internet  (server web). Sasaran kegiatan peningkatan pengembangan layanan jasa perpustakaan dengan menambahkan  jumlah jam layanan pada waktu berkunjung ke perpustakaan, yang bertujuan untuk meningkatkan minat baca masyarakat. Dengan kegiatan tambahan jam layanan ini diharapkan bagi pengguna jasa perpustakaan semangkin lebih terpacu untuk berkunjung ke perpustakaan. Untuk saat ini dalam kondisi pandemi Covid -19, jasa perpustakaan tetap harus berjalan dengan menyesuaikan jumlah jam layanan  pada saat pandemi. Semoga kedepanya kegiatan peningkatan pelayanan jasa perpustakaan terus berkembang dapat meningkatkan kualitas layanan kepada masyarakat.

 

Pengembangan layanan berbasis teknologi informasi mempunyai peran yang lebih luas. Pelaksanaan layanan berbasis teknologi informasi melayankan koleksi digital disimpan pada server lokal (client server) sedangkan akses informasi atau dokumen dapat dilakukan di perpustakaan setempat atau melalui jaringan internet (warnet atau wifi).

 

Perpustakaan Digital

Perpustakaan Digital merupakan terjemahan langsung dari kata bahasa  efisini tentang perpustakaan digital tidaklah seragam.

Digital Library Federation (dalam Siregar 2009) di Amerika Serikat memberikan defisini perpustakaan digital sebagai organisasi-organisasi yang menyediakan sumber-sumber, termasuk staff dengan keahlian khusus, untuk

menyeleksi, menyusun, menginterpretasi, memberikan akses intelektual, mendistribusikan, melestarikan dan menjamin keberadaan koleksi karya-karya digital sepanjang waktu sehingga koleksi tersebut dapat digunakan oleh komunitas masyarakat tertentu.

 

Romi Satrio Wahono (1999) mendefinisikan perpustakaan digital sebagai suatu perpustakaan yang menyimpan data baik itu buku (tulisan), gambar, suara dalam bentuk file elektronik dan mendistribusikannya dengan menggunakan protokol elektronik melalui jaringan komputer. Menurutnya, istilah perpustakaan digital memiliki pengertian yang sama dengan perpuetakaan elektronik (electronic library) dan perpustakaan maya (virtual library).

 

Digital library adalah organisasi yang menyediakan sumber dan staf ahli untuk menyeleksi, menyusun, menyediakan akses, menerjemahkan, menyebarkan, memelihara kesatuan dan mempertahankan kesinambungan koleksi-koleksi dalam format digital sehingga selalu tersedia dan mudah untuk digunakan oleh komunitas tertentu.

 

Pustakawan Digital

Perpustakaan digital memerlukan pustakawan digital. Koleksi digital harus diseleksi, diadakan, diorganisasikan dan dibuat tersedia, serta dipelihara. Pelayanan digital harus direncanakan, diimplementasikan, serta didukung oleh semua unit perpustakaan yang ada. Komputer sebagai peralatan utama dimana perpustakaan digital dibangun, tetapi sumberdaya manusia diperlukan untuk mengintegrasikan seluruhnya dan membuatnya berjalan.

Persyaratan umum perpustakaan digital mungkin sama dengan perpustakaan konvensional pada umumnya dimana dalam perpustakaan digital terdapat koleksi, proses pengolahan, layanan, petugas, pengunjung dan lain-lain. Pustakawan digital saat ini menemukan bahwa apa yang mereka lakukan hampir tidak pernah mereka pelajari sewaktu di sekolah dan hanya sedikit familiar dengan lingkungan kerjanya sekarang. Di samping itu, teknologi berkembang pesat yang menyebabkan apa yang dipelajari saat ini akan segera ketinggalan zaman.Oleh karena itu, adalah lebih penting bahwa pustakawan digital memiliki kualitas personal tertentu daripada memiliki keahlian tertentu yang sebenarnya dapat dipelajari.

Pustakawan digital harus berkembang sesuai dengan perubahan. Kirk Hasting (1996) menyebutkan beberapa persyaratan untuk menjadi pustakawan digital. Mereka harus membaca secara terus menerus tetapi selektif dan melakukan eksperimen tanpa akhir. Mereka harus mencintai belajar, mampu belajar sendiri, dan berani mengambil resiko. Mereka harus memiliki keuletan terhadap teknologi baik potensinya maupun kesukarannya.

Berhadapan dengan perubahan yang terjadi, pustakawan harus memiliki kemampuan untuk melihat apa sesungguhnya yang berubah dan apa yang tetap sama. Nilai dasar profesi pustakawan akan tetap sama, tetapi nilai tersebut diterjemahkan ke dalam kegiatan dan operasi mengalami perubahan mendasar. Misi perpustakaan untuk mengumpulkan, mengorganisasikan dan menyediakan akses terhadap sumberdaya informasi tetap relevan, tetapi teknologi dan carauntuk melakukannya mengalami perubahan.

 

Pustakawan harus menerima tanggung jawab dan berintegrasi dengan lingkungan jaringan informasi. Internet yang menawarkan cara baru untuk berkomunikasi dan untuk memperoleh akses terhadap berbagai jenis informasi, membuka tantangan baru bagi pustakawan untuk mengeksplorasi dan memanfaatkan sumberdaya digital untuk kepentingan pemustaka. Penyediaan sumberdaya informasi digital harus disertai dengan sumberdaya digital yang jumlah dan kecepatan penyebarannya terus meningkat.

 

Katalog online (OPAC) yang dikembangkan harus dimuat dalam jaringan internet. Layanan referens interaktif dan pengiriman dokumen secara elektronik juga sudah saatnya dikembangkan. Sebagai contoh saat ini Perpustakaan Universitas Gadjah Mada menawarkan pelayanan online melalui internet, dimana masyarakat dapat mengakses katalog, hasil-hasil seminar, pidato pengukuhan guru besar, jurnal-jurnal terbitan UGM, dan mengusulkan pengadaan bahan- bahan pustaka baru. Pada tahap selanjutnya, pustakawan harus melibatkan diri dalam pengembangan bahan-bahan digital lain, jika perlu bekerjasama dengan pihak lain untuk melakukan penelitian di bidang informasi dan perpustakaan.