oleh Tirta

Sebagai negara maritim, idealnya Indonesia menjadi negara yang maju dan berdaya saing.  Nyatanya, kualitas sumber daya manusia (SDM) belum menunjukkan hal tersebut. Jadi  sangat tepat jika pembangunan yang berkelanjutan harus melibatkan perpustakaan agar target SDM Unggul Indonesia Maju tercapai.  Di sejumlah negara di Eropa dan Asia, mulai banyak diterapkan kebijakan dan upaya kolaboratif untuk meningkatkan kompetensi dan kemampuan ketika masuk ke dunia kerja  rumusan tersebut melibatkan peran pemerintah, akademisi, dan pelaku bisnis. Sederhananya  para lulusan universitas langsung terserap oleh lapangan kerja di sektor industri dan UMKM yang dibangun pemerintah.

Era industri 4.0 secara langsung ataupun tidak langsung telah dilewati. Yang harus dilakukan selanjutnya adalah yang terpenting kita jangan berpikir sama dengan yang dilakukan negara lain. Harus berbeda jika sama  berarti proses literasi tidak berjalan. Harus ada perubahan paradigma pada semua lini.

Perpustakaan menawarkan formula dimana sumber daya alam yang merupakan modal dasar pembangunan dapat dikelola oleh kualitas SDM yang terbarukan. Salah satunya melalui program transformasi layanan perpustakaan berbasis inklusi sosial yang rata-rata melibatkan industri rumah tangga (home industry). Pertanyaannya  kenapa angka pengangguran masih tinggi karena pembangunan kurang melibatkan perpustakaan dalam pembanguna saat pelaksanaan Sosialisasi Peningkatan Indeks Literasi Masyarakat (PILM). Transformasi layanan perpustakaan berbasis inklusi sosial yang menjadi salah satu program utama Perpusnas melibatkan kemampuan literasi. Di abad 21 literasi adalah alat kecakapan hidup sebagai modal penting untuk bersaing. Kita memerlukan anak-anak Indonesia yang mampu berpikir kritis, kreatif, dan kemauan kolaboratif.  Tidak hanya anak-anak milenial yang akan menjadi estafet penerus pembangunan  melainkan para orang tua juga harus didorong agar turut memiliki kemampuan literasi yang setara dengan generasi penerus yang memiliki kemampuan multi literasi.

 

Demi memudahkan literasi perlu dibingkai menjadi Gerakan Literasi Nasional. Gerakan yang tidak bergerak secara parsial melainkan kolaboratif. Pelibatan publik benar-benar diaktifkan karena tanpa kesadaran kolektif, upaya peningkatan daya saing hanya sekedar macan kertas. Industri 4.0 yang sarat dengan artificial intellegence dan big data memerlukan trilogi kecakapan, antara lain pertama karakter, yakni kemampuan beradaptasi pada perubahan yang dinamis. Kedua, kompetensi yang bisa diperoleh manusia lewat pengalaman dalam memecahkan masalah. Dan ketiga literasi, yakni kemampuan berpikir kritis yang ditopang kemampuan baca tulis dan Literasi merupakan episentrum untuk kemajuan budaya. Gerakan literasi nasional  adalah pondasi awal jika dilaksanakan dengan baik. Gerakan literasi merupakan praktek sosial dengan berbagai konteks.Yang banyak terjadi berkurangnya sarana atau infrastruktur perpustakaan, bukan persoalan minat baca yang rendah. Oleh karena itu, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kalimantan Barat menggelorakan semangat membangun perpustakaan desa . Esensi dari perpustakaan bukan hanya fisik buku melainkan makna yang terkandung dalam buku. Tatanan nilai Indonesia harus dijaga  jangan dirusak maka penting literasi yang berkemajuan berkebudayaan dan bertakwa kepada Tuhan.