oleh Tirta

Perpustakaan digital adalah salah satu inovasi yang memudahkan proses pembelajaran dari rumah.

Perpustakaan digital adalah salah satu inovasi yang sedang dikembangkan seiring dengan perkembangan zaman dan kemajuan teknologi. Saat ini seluruh dunia sedang dilanda wabah virus corona. Wabah virus corona atau biasa disebut dengan Covid-19 merupakan sekumpulan virus yang dapat menyebabkan infeksi pada saluran pernafasan. Pandemi Covid-19, yang pertama kali bermula di Wuhan, Ibukota Provinsi Hubei, China merupakan virus jenis baru yang hingga saat ini telah mewabah hampir semua negara, tak terkecuali Indonesia. Setiap negara mengambil kebijakan menjaga jarak atau karantina sosial, pembatasan sosial baik berskala kecil ataupun besar hingga beberapa negara bahkan menutup pintu masuk melalui penutupan Airport dan Pelabuhan. Di Indonesia sendiri, setelah adanya corona virus ini, bukan cuma aktifitas jasmani saja yang ditiadakan, namun kegiatan pembelajaran dan profesipun juga ditiadakan. Dimasa pandemi ini, masyarakat dianjurkan untuk mengurangi kegiatan di luar rumah. Hal ini karena adanya kebijakan pemerintah yang mengharuskan kita untuk belajar dan bekerja di dalam rumah.

Dengan adanya wabah covid-19 ini, segala aktivitas dan fasilitas publik diseluruh dunia ditiadakan dalam artian ditutup sementara, salah satunya perpustakaan. Perpustakaan merupakan sebuah ruangan atau gedung yang digunakan untuk menyimpan buku dan terbitan lainnya yang biasanya disimpan menurut tata susunan tertentu untuk digunakan pembaca, buku bukan untuk dijual (Sulistyo-Basuki, 1993:03). Saat ini perpustakaan tidak lagi dapat memberikan layanan dengan baik, terutama layanan peminjaman serta pengembalian koleksi bahan pustaka. Lembaga perpustakaan diharuskan untuk melakukan inovasi layanan perpustakaan dengan basis digital. Hal ini mengharuskan masyarakat untuk cepat beradaptasi dengan pola hidup yang baru seperti berkurangnya kegiatan bertatap muka. Masyarakat harus pandai untuk memanfaatkan gadget dengan sebaik-baiknya seperti menggali informasi secara virtual.

Sumber informasi atau pengetahuan itu sendiri dapat diakses secara virtual melalui perpustakaan digital. Perpustakaan digital adalah perpustakaan yang berbentuk electronic library yang memiliki koleksi buku dalam bentuk elektronik atau biasa di sebut E-Book. E-book yang merupakan singkatan dari electronic book adalah suatu buku yang bentuknya digital atau elektronik dimana biasanya berisi informasi atau panduan/tutorial. E-book dapat berupa file dengan format yang bermacam-macam. Ada berupa htm yang dapat dibuka dengan browsing, ada juga berupa pdf yang dapat dibuka dengan program Acrobat Reader atau sejenisnya. Tak berbeda jauh dengan buku cetak pada umumnya, e-book atau buku elektronik juga berisi tulisan-tulisan dan gambar dengan berbagai tema, misalnya seperti e-book teknologi, e-book ilmu pengetahuan, e-book motivasi, e-book tutorial, dan masih banyak tema lainnya.

Gagasan pendirian dan pembuatan perpustakaan digital dimunculkan pertama kali oleh seorang ahli bernama Vannevar Bush pada tahun 1945. Bush mengajukan ide untuk membuat catatan dan perpustakaan pribadi (untuk buku, rekaman/dokumentasi, dan komunikasi) yang termekanisasi karena merasa bahwa penyimpanan informasi manual menghambat akses terhadap penelitian yang sudah dipublikasikan. Kemudian pada tahun 1980 fungsi utama dari perpustakaan mulai diotomasi dengan teknologi yang lebih modern yaitu melalui perangkat computer, namun hanya lembaga dan instansi besar saja yang mampu menyediakannya. Misalnya pada Library of Congress di Amerika yang telah mengimplementasikan sistem tampilan dokumen elektronik (electronic document imaging systems) untuk kepentingan penelitian dan operasional perpustakaan. Berikutnya pada sekitar tahun 1990, penerapan pengelolaan perpustakaan secara modern ini makin berkembang dan dikenal oleh masyarakat seluruh dunia termasuk Indonesia. Pada tahun 1994, Library of Congress mengeluarkan rancangan National Digital Library dengan menggunakan tampilan dokumen elektronik, penyimpanan dan penelusuran teks secara elektronik, dan teknologi lainnya terhadap koleksi cetak dan non-cetak tertentu. Selanjutnya pada September 1995, enam universitas di Amerika diberi dana oleh NSF/ARPA/NASA untuk melakukan proyek penelitian perpustakaan digital. Penelitian ini melibatkan peneliti dari berbagai bidang, organisasi penerbit dan percetakan, perpustakaan-perpustakaan, dan pemerintah Amerika sendiri. Proyek ini cukup berhasil dan menjadi dasar penelitian perpustakaan digital di dunia.

Perpustakaan digital dapat di akses melalui perangkat elektronik seperti komputer, tablet, dan smartphone kapanpun dan dimanapun, sehingga masyarakat tidak perlu keluar rumah dan bisa mendapatkan informasi ataupun pengetahuan secara mudah. Aktifitas masyarakat dalam menggunakan layanan perpustakaan pun beralih ke perpustakaan digital dengan mengunduh aplikasi di playstore untuk android atau dari website perpustakaan untuk pengguna perpustakaan yang menggunakan media komputer. Salah satu contoh aplikasi perpustakaan yang digunakan adalah iPusnas dari Perpustakaan Nasional. Aplikasi ini berisikan berbagai macam konten e-book yang tersedia yang dapat dipinjam dan di baca untuk jangka waktu beberapa hari. Cara penggunaannya pun cukup mudah dan ringkas. Pengguna perpustakaan dapat melakukan usulan buku pada kolom atau kontak yang tersedia pada aplikasi perpustakaan. Sebenarnya sudah lama perpustakaan online hadir di tengah masyarakat, namun eksistensinya kalah dengan media sosial. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia sudah memiliki i-pusnas sejak 16 Agustus 2016. Selain perpusnas, beberapa provinsi, kota dan kabupaten di Indonesia juga sudah memiliki perpustakaan online. Salah satunya adalah Kota Tangerang Selatan. I-Tangsel dapat dikatakan sebagai perpustakaan online yang dapat dimanfaatkan oleh seluruh warga sekolah dimanapun mereka berada. Pemustaka menginginkan informasi yang dapat diakses dengan genggaman dan dapat dimanfaatkan kapan saja dan dimana saja. Akses koleksi digital inilah yang sangat diharapkan bagi pemustaka disaat ini. Selain bermanfaat untuk pengguna, perpustakaan digital juga bermanfaat untuk pustakawan selaku pengelola perpustakaan. Pustakawan dapat dengan mudah melakukan monitoring dari berbagai lokasi dan kapan pun. Jika terjadi permasalahan di aplikasi perpustakaan maka dengan mudah dilakukan perbaikannya.

Salah satu dampak dari pandemi covid-19 ini adalah terjadi transformasi terhadap lembaga perpustakaan. Kemajuan teknologi yang pesat ini memiliki dampak yang positif. Seperti pada peningkatan layanan perpustakaan yang dapat mempermudah masyarakat mengakses E-Book yang mereka cari. Perpustakaan sebagai tempat pengelola informasi mengedepankan layanan kepada masyarakat dengan berbagai media, yang salah satunya adalah dengan membangun perpustakaan digital. Menilai dari manfaat perpustakaan digital di dalam masa wabah corona tidak hanya bermanfaat bagi internal dan eksternal perpustakaan saja tetapi juga bermanfaat bagi pengembangan literasi informasi dan pengetahuan secara digital. Perpustakaan digital sangat mendukung kegiatan Work From Home ataupun School From Home, khususnya dimasa pandemi seperti saat ini. Perpustakaan digital mulai banyak diminati oleh masyarakat, terutama untuk orang-orang yang sering menggunakan layanan perpustakaan konfensional. Dengan adanya perpustakaan digital ini memberikan banyak keuntungan apalagi dimasa pandemi saat ini. E-Book yang dapat di akses tanpa harus keluar rumah dapat mengurangi resiko penyebaran Covid-19. Seperti yang kita tahu bahwa covid-19 menyebar melalui benda yang kita sentuh, jadi dengan kita menggunakan E-Book kita sudah tidak perlu lagi mengambil dan menyentuh buku yang akan kita baca. Apa lagi dimasa pandemi yang mengharuskan orang-orang berdiam diri di dalam rumah. Mereka bisa membaca E-Book hanya melalui smartphone dari rumah tanpa harus datang ke perpustakaan konfensional