oleh Tirta

Perubahan fundamental paradigma perpustakaan yang awalnya berpusat pada manajemen koleksi saat ini telah berubah menjadi manajemen pengetahuan. Peran pustakawan sangat penting sebagai bagian penggerak transfer pengetahuan pembentuk budaya literasi. Pustakawan diharapkan punya kemampuan yang mumpuni untuk mendorong terwujudnya masyarakat yang unggul dan sejahtera melalui literasi

Dengan jumlah pustakawan yang saat ini masih terbatas di Indonesia, ini memang bukan hal mudah. Pustakawan harus memiliki inovasi terkait cara-cara mentrasfer pengetahuan kepada masyarakat . Saat ini tugas pustakawan adalah merangkul masyarakat yang mengalami kesulitan ekonomi maupun sosial terutama di masa pandemi ini untuk mendapatkan berbagai macam pengetahuan baru yang dapat menjadi solusi atas masalah yang dihadapi.

Menurut data BPS dan Bappenas hanya 8-10% masyarakat yang mampu menjangkau perguruan tinggi. Maka untuk mencapai SDM unggul Indonesia maju maka penting untuk menyediakan pendidikan vokasi melalui penyediaan sumber pengetahuan dan buku-buku ilmu terapan juga pelatihan-pelatihan bagi 90% masyarakat yang belum memiliki keterampilan tertentu , akan memaksimalkan peran Perpustakaan  dalam hal mendigitalisasi berbagai macam koleksi yang dimiliki agar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat  yang jauh dari sarana prasarana perpustakaan.

Sejalan dengan itu,  bahwa di era semakin bertumbuhnya ekosistem perpustakaan digital seorang pustakawan harus bisa berkreatifitas untuk menjadikan perpustakaan sebagai tempat masyarakat berkomunitas dan mendapatkan pengetahuan-pengetahuan melalui layanan yang diberikan.

Contohnya di negara maju pustakawan memberikan saran dan pelatihan kepada masyarakat untuk mendapat pekerjaan sesuai dengan bidang ilmu serta kemampuan yang dimiliki pada suatu jenis pekerjaan. Sedangkan perpustakan menjadi sarana masyarakat mengakses internet dalam upaya menemukan sumber pengetahuan, sehingga muncullah digital literasi dari sisi pustakawan dan pemustaka . 

Istilah cybrarian sebagai orang yang mampu mengintegrasikan pengetahuannya dengan teknologi meggunakan internet untuk membantu masyarakat atau komunitas dan pemerintah memecahkan masalahnya. Dan pustakawan memiliki pilihan untuk berubah menjadi cybrarian dan berkembang kearah yang lebih baik serta bermanfaat untuk masyarakat. Dalam hal perpustakaan sebagai sebuah pusat pengetahuan dan informasi serta pembelajaran bersama melalui program perpustakaan berbasis inklusi sosial seorang pustakawan harus memiliki kemampuan dalam menjalankan peer learning activities dan pelatihan kecakapan hidup berbasis literasi.

Ternyata jika di luar negeri perpustakaan merupakan sumber informasi, orang bisa mencari pekerjaan bisa disana, bahkan diberikan bekal keahlian, maka perpustakaan kita pun mengarah kesana melalui program perpustakaan berbasis inklusi sosial. Dan ini benar-benar harus didukung oleh pustakawan sebagai penggerak modal kerja yang ada di perpustakaan.