oleh Nining

Perpustakaan sebagai sumber informasi, tempat rekreasi, tempat belajar, tempat berdiskusi banyak yang ditutup sementara dikarenakan keberadaan virus Covid 19.  Layanan perpustakaan   terhenti sementara. Hingga IFLA (International Federation Of Libray Association and Institutions) mengeluarkan pedoman bagi Perpustakaan seluruh dunia untuk bisa memberikan layanan selama masa pandemi berlangsung, pedoman ini kemudian diadaptasi oleh Perpustakaan Nasional RI dan mengeluarkan surat edaran tentang layanan Perpustakan Nasional dalam tatanan normal baru, yang juga kemudian diadaptasi kembali perpustakaan umum lainnya. Beberapa perubahan aturan dilakukan agar perpustakaan dapat melaksanakan tugasnya dalam memberikan layanan kepada masyarakat.

Perubahan dalam aktivitas memberikan layanan kepada pemustaka ini pasti membutuhkan penyesuaian. Bagaimana mempersiapkan dan membiasakan pustakawan untuk melaksanakan prosedur tersebut.

Sebagai pusat informasi, dimasa pandemi ini perpustakaan harus tetap memberikan layanan kepada masyarakat. Perpustakaan merupakan organisasi yang tumbuh, harus dapat menyesuaikan pada kondisi kebutuhan informasi masyarakat. Perpustakaan tidak boleh berhenti mengikuti perkembangan zaman. Dimasa saat ini pelayanan perpustakaan dihadapkan dengan kondisi pandemi, dimana belum ada seorang pun yang memastikan kapan akan berakhir, sehingga perpustakaan pun harus menyesuaikan dengan mengikuti protokol kesehatan yang berlaku agar dapat memberikan pelayanan tanpa membahayakan pemustaka dan pustakawan.

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kalimantan Barat   mengikuti pedoman pelayanan dimasa pandemi, yang harus dilaksanakan adalah protokol kesehatan bagi pemustaka dan pustakawan yaitu,  menggunakan masker, wajib mencuci tangan, suhu tubuh maksimal 37,3℃, menerapkan etika batuk dan bersin, menerapkan pysical distancing, membatasi jumlah pemustaka agar tidak terlalu penuh dalam satu ruangan, selalu menjaga kebersihan, bagi pemustaka harus bersedia menerima teguran bila tidak menjalani protokol kesehatan. 

Hal terpenting yang harus diingat adalah bahwa layanan perpustakaan harus melaksanakan protokol kesehatan yang sesuai agar dapat membantu menekan penyebaran dan menjaga keselematan kesehatan pustakawan dan pemustaka.

Melalui Surat Edaran Gubernur Kalimantan Barat Nomor : 065/2419/OR-B tanggal 18 September 2020 tentang Penyesuaian Sistem Kerja Aparatur Sipil Negara dalam Tatanan Normal Baru di lingkungan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat. Sebagai upaya pencegahan dan pengendalian Covid-19 diminta layanan perpustakaan harus menyediakan perlengkapan kesehatan seperti masker, face shield, sarung tangan, sabun untuk mencuci tangan, handsanitizer, disinfektan untuk ruangan,  thermometer untuk mengecek suhu tubuh. Perlengkapan tersebut harus disiapkan untuk digunakan oleh pustakawan selama memberikan pelayanan kepada pemustaka, memberikan perlindungan kepada pustakawan.

Pemustaka harus wajib mencuci tangan sebelum masuk ke ruang perpustakaan, dan wajib menggunakan masker, apabila tidak menggunakan masker maka tidak diperkenankan masuk ke perpustakaan. Apabila sudah mencuci tangan dan menggunakan masker, maka berikutnya di cek suhu tubuhnya sebelum masuk ke ruang perpustakaan, apa bila tidak melewati suhu maksimal maka pemustaka dipersilahkan untuk memanfaatkan layanan perpustakaan. Kursi pemustaka diatur berjarak dan tidak boleh dipindahkan, dan pemustaka harus selalu menjaga jarak selama berada di dalam ruang perpustakaan, Pustakawan harus memperhatikan pemustaka agar selalu memperhatikan protokol kesehatan.

Pustakawan juga diharapkan tidak ragu saat harus memberikan teguran kepada pemustaka yang tidak menjalankan protokol kesehatan selama masa pandemi, dikarenakan pelaksanaan protokol kesehatan adalah untuk keselamatan bersama.

Untuk mempromosikan perpustakaan, ada baiknya perpustakaan memberikan informasi melalui internet baik web maupun media sosial, yang berisi bahwa perpustakaan telah siap melayani dengan standar protokol kesehatan yang baik, agar pemustaka yang membutuhkan informasi dari perpustakaan dapat memanfaatkan perpustakaan dengan tetap mengikuti protokol kesehatan. 

Masa pandemi ini menunjukkan bahwa transformasi perpustakaan dari layanan koleksi fisik ke digital bukan lagi pilihan mau atau tidak, perlu atau tidak, tapi sebuah kewajiban. Sebagai penyedia layanan informasi, harusnya perpustakaan memang sudah memberikan layanan digital, mengingat internet mulai menjadi kebutuhan primer bagi hampir seluruh manusia. Perpustakaan pun harusnya mampu memanfaatkan internet untuk mempromosikan perpustakaan.

Pustakawan sebagai orang yang mengelola perpustakaan dituntut mampu untuk mengikuti perkembangan. Meskipun tak banyak yang menganggap perpustakaan hanya sebelah mata, ada baiknya kita tetap optimis dalam mengambil peran membantu mencerdaskan kehidupan bangsa kita. Literasi informasi yang sangat dibutuhkan saat ini, literasi informasi ditengah banjirnya informasi yang ada, kemampuan memilih dan memilah informasi yang tepat guna dan faktual harus dimiliki oleh pustakawan agar mampu membantu pemustaka untuk Perubahan sistem kerja di masa pandemi ini, memang butuh waktu untuk dapat membiasakan diri, namun untuk keselamatan bersama, sudah sepatutnya kita laksanakan sesuai anjuran.