Oleh : Welasati

Era globalisasi adalah era keterbukaan dunia yang membuat dunia seperti tidak ada batasnya. Era globalisasi tumbuh dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang membuat masyarakat harus mengikuti perkembangan tersebut agar tidak tertinggal dari masyarakat-masyarakat yang sudah melek terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi.

Perpustakaan menurut Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam secara
profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka. Menurut Sulistyo Basuki (1991), perpustakaan adalah sebuah ruangan, bagian sebuah gedung, ataupun gedung itu sendiri yang digunakan untuk menyimpan buku dan terbitan lainnya yang biasanya disimpan menurut tata susunan tertentu untuk digunakan pembaca, bukan untuk dijual. Perpustakaan dapat diartikan juga sebagai suatu unit kerja yang substansinya merupakan sumber informasi yang setiap saat dapat digunakan oleh pengguna jasa layannya (Suwarno, 2014: 11).

Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, membuat pustakawan tidak hanya dituntut mengolah informasi yang terdapat dalam perpustakaan yang dimana maksud informasi di sini adalah buku-buku tercetak yang terdapat di perpustakaan. Pustakawan juga dituntut untuk mengolah informasi agar bisa diakses oleh masyarakat luas secara terbuka.

Boai (2002) dalam Sahidi (2017) mendefinisikan Open Access adalah ketersediaan publikasi gratis di internet, memungkinkan setiap pengguna untuk membaca, mendownload, menyalin, mendistribusikan, mencetak, mencari atau link ke semua teks dari artikel, mengindeks, melewatinya sebagai data untuk perangkat lunak, atau menggunakan artikel untuk tujuan yang sah lainnya, tanpa membutuhkan biaya, hukum atau teknis hambatan lainnya dibandingkan yang tidak bisa diakses melalui internet itu sendiri.

Fungsi hadir atau adanya Open Access terdiri dari:

  1. Memudahkan dalam pengembangan iptek.
  2. Sebagai media transfer pengetahuan dalam komunikasi ilmiah.
  3. Memperluas jaringan pengetahuan dalam meningkatkan reputasi yang menulis.
  4. Meningkatkan kredibilitas peneliti yang hasil penelitiannya memungkinkan bisa dikutip peneliti lain dengan akses yang mudah.
  5. Meminimalkan tindakan penjiplakan/plagiat.
  6. Mengupayakan agar biaya tidak lagi menjadi penghalang dalam penyebaran informasi ilmiah.
  7. Menjadi solusi bagi siapa saja yang membutuhkan sumber informasi terbaru dalam berbagi bidang disiplin ilmu. (Fatmawati, 2013: 102)

Pada dasarnya konsep OA bisa dikatakan sebagai alat untuk diseminasi informasi. Ciri
khasnya, antara lain:

  1. Available online and immediate with permanen online access. Tersedia secara terpasang dalam bentuk literatur digital, langsung dapat segera diakses, serta akses online permanen dengan teks lengkap dari artikel hasil penelitian.
  2. Applies to royalty-free literature. Bebas royalty sastra sehingga penulis gratis tidak dibayar (free of charge), membayar biaya ongkos per satu kali akses (pay per view) bagi yang tidak berlangganan, serta bebas dari hambatan harga
  3. Authors receive no direct financial compensation. Penulis tidak menerima kompensasi finansial secara langsung.
  4. Free of permission barriers. Bebas dari hambatan. Misalnya: bebas akses tanpa hambatan biaya (free access without fee), bebas dari semua ikatan yang menyangkut hambatan hak cipta (free of most copyright), serta tidak memerlukan batas perijinan (licensing restrictions) (Fatmawati, 2013:98-99).

Banyak sekali keuntungan adanya gerakan OA. Hal ini bisa dikelompokkan dalam kategori berikut:

  1. Penulis (authors). Memberikan dampak yang lebih besar. Misalnya: membantu mencegah plagiat (helps guard against plagiarism), visibilitas (visibility), hak cipta penulis, pemberian penghargaan kepada penulis dalam bentuk pengutipan, komunikasi ilmiah meningkat, paparan internasional, maupun pengakuan ilmiah.
  2. Peneliti (researchers). Menyediakan pusat arsip pekerjaan peneliti, memudahkan penemuan dan penelusuran irformasi ilmiah, memudahkan penyebaran informasi hasil penelitian, meningkatkan dampak dari penelitiannya, memungkinkan peneliti
    dapat mengetahui topik penelitian yang pernah dilakukan, dapat mengetahui tingkat pencapaian penelitian, maupun mengetahui tema penelitian yang masih belum tersentuh.
  3. Lembaga (institutions). Terjangkaunya biaya penerbitan dan operasional penggunaan, membantu lembaga pendanaan dengan menyediakan akses publik ke hasil penelitian yang didanai publik, meningkatkan visibilitas dan prestise kepada badan pendanaan dan komunitas riset global, sebagai alat bantu dalam latihan penilaian penelitian.
  4. Pembaca (readers) atau Pemustaka (users). Untuk penelitian dan pembelajaran sangat penting untuk penemuan (discoverability) sehingga tidak hanya akses ke konten saja. Suatu contoh: pemustaka akses melalui
    Wikipedia dan tahu informasi yang tersedia tidak selalu akurat, lalu bisa link ke peerreview atau yang lainnya. Nah diskusi OA memainkan peran disini karena biasanya pembaca hanya cenderung bersandar kepada informasi yang tersedia secara bebas. Intinya dapat memberikan pembaca atau pemustaka akses bebas hambatan bagi literatur yang mereka butuhkan dengan aksesibilitas secara penuh (full text searchability), tidak membayar (no cost), keterjangkauan (affordability), dan mengoptimalkan nilai kegunaan (usage)
  5. Masyarakat umum (public society). Memungkinkan akses ke temuan penelitian (access to research findings) secara lebih bebas dan mudah.
  6. Perpustakaan (library). Menekan biaya langganan yang tinggi sehingga perpustakaan tidak perlu melanggan, aksesibilitas lebih mudah, dapat mengakomodir kebutuhan pemustaka yang sangat heterogen, menjadi solusi adanya aturan perijinan untuk akses.
  7. Pustakawan (librarian). Berpeluang dalam kajian Bibliometric, misalnya: sitasi (citations).
  8. Pengajaran dan pembelajaran (teaching and learning). Membantu seluruh siswa dan mahasiswa untuk akses materi yang sama dengan lebih mudah. OA memungkinkan mereka untuk mendapatkan informasi secara cepat, dan terkadang malah lebih dahulu daripada guru atau dosennya. Adanya media social networking akan memainkan peran penting dalam berinteraksi dengan konten OA (Fatmawati, 2013:101-102).

Selain memiliki kelebihan, menurut Kiramang (2017) Open Access memiliki beberapa kelemahan yang terdiri dari:

  1. Kurangnya kesiagaan terhadap OA

Pendukung OA kelihatannya masih kurang berhasil meyakinkan para ilmuwan dan peneliti akan pentingnya OA. Beberapa hasil survey yang dikutip oleh Archambault jelas menunjukkan bahwa tingkat kesiagaan dan pengetahuan peneliti mengenai OA masih terhitung rendah. Kesiagaan ini penting karena berdampak secara langsung pada jumlah deposit yang masuk di repositori atau jurnal OA.

  1. Kualitas artikel OA

Hal ini berkaitan dengan tidak adanya proses peer review atau pun jika ada pelaksanaannya dianggap seadanya, terutama untuk artikel atau karya ilmiah yang diunggah di repositori. Beberapa model peer review telah dicoba. Misalnya, open peer review: Research Gate di mana penulis mengetahui orang yang me-review artikelnya.

  1. Prestis

Jurnal OA dianggap kurang memiliki prestis dibanding jurnal komersial. Hal ini tentu saja terjadi karena jurnal komersial umumnya telah lama malang melintang di dunia penerbitan sehingga memiliki reputasi, bahkan penerbitnya telah menciptakan system metrik yang diadopsi oleh pemerintah, perguruan tinggi, dan para ilmuwan sebagai standar kualitas jurnal dan penilaian hasil penelitian.

  1. Penerbit Pemangsa

Dampak dari model pembiayaan “gold” OA yang mengharuskan penulis membayar biaya penerbitan artikel, Article Processing Cost (APC), telah membuka peluang munculnya penerbit pemangsa. OA telah diekploitasi oleh penerbit pemangsa untuk mendapatkan keuntungan dari penulis yang kurang berpengalaman dengan menciptakan jurnal berkualitas rendah. Sesungguhnya hal seperti ini juga telah lama menjadi masalah dalam dunia penerbitan ilmiah. Penerbitan seperti ini populer dengan sebutan “vanity publishing‟.

  1. Hak cipta

Model perlindungan hak cipta yang menjadi pilihan pendukung OA, yaitu Creative Commons, kelihatannya tidak dapat melindungi para penulis secara maksimal dari pihak lain yang ingin menarik keuntungan dari karya mereka. Persoalan hak cipta ini disebabkan oleh tidak adanya kesepakatan di antara berbagai pihak mengenai definisi OA itu sendiri.

  1. Pembayaran bagi penulis

Pembebanan biaya pengelolaan artikel bagi penulis tentu saja memberatkan terutama mereka yang berasal dari negara berkembang di mana dana riset tidak mudah didapatkan dan jumlahnya tidak sebesar di negara maju. Biaya APC jumlahnya tidak sedikit. Di salah satu jurnal besar OA, Public Library of Science (PLoS), misalnya, biaya APC untuk sebuah artikel tidak kurang dari 15 juta rupiah. Selain memberatkan, pembayaran bagi penulis, APC membuka peluang terjadinya bias dalam proses peer review karena pembiayaan.

Dengan Open Access yang semakin berkembang dan dibutuhkan, ini merupakan sebuah ladang pekerjaan bagi pustakawan untuk mengolah informasi semakin terbuka dan menjunjung tinggi sikap mendukung Open Access. Mercer (2011) dalam Fatmawati (2013)  menjelaskan langkah strategis yang bisa dilakukan oleh para pustakawan, yaitu:

  1. Memahami segala aspek teknis tentang publikasi ilmiah dan berupaya ikut serta dalam proses penelitian dan penulisan ilmiah.
  2. Terjun langsung dalam kegiatan yang menyangkut komunikasi ilmiah, misalnya:
    perencanaan penelitian, penerbitan jurnal, penggalangan komunikasi antar ilmuwan.
  3. Memahami penggunaan sarana pemantauan yang dapat dimanfaatkan oleh peneliti dan penulis untuk mengukur keuntungan yang diperoleh jika menggunakan sarana OA.
  4. Terlibat aktif dalam pengembangan dan perubahan sistem publikasi ilmiah yang pro
    terhadap OA.
  5. Memastikan dukungan kebijakan dari perpustakaan sebagai tempat bernaung para
    pustakawan yang akan menggerakkan OA.

   Open Access sangat membantu terutama pemustaka dalam mengakses informasi. Diharapkan pustakawan dan perpustakaan terutama perpustakaan perguruan tinggi dapat membuat pelayanan Open Access agar hadir di dalam lingkungan perpustakaan sebagai upaya untuk peningkatan kualitas pelayanan di perpustakaan tersebut.