RUMAH di jalan Cisadane, Singkawang itu posisinya cukup strategis.  Muka jalannya tepat berhadapan dengan gerbang belakang gedung  Grand Mall Singkawang. Satu-satunya Mall di kota kecil nan indah ini.  Dirumah ini priska Yeni Rianto dan anak-anak asuhnya menhasilkan ribuan karya. Dari sini pula virus membatik itu muncul dan menyebar.  

 Saat  Pontianak Pos berkunjung sang empunya rumah,  seang fokus melukis  kain denan canting dan llin.  Ia dibantu tiga anak asuhnya. Pola lukisannya ia karang sendiri.

Ini motif kolase patung tradisioal. Saya meggambar perpadan motif patung-paung dari berbagai daerah  di Nusantara. Saya apesiasikan motif-motif itu kedalam selembar kain batik,” ujar perempuan 32 tahun ini.

Sebagian  besar karyanya adalah batik tulis.  Namun untuk produksi yang agak banyak,  ia menggunakan teknik cetak.  Motifnya kebanyakan bertema etnik.  Tentu saja ia banyak memuat motif suku-suku besar di Kalimantan Barat, seperti Dayak, Melayu, dan Tionghoa.  Adapula corak yang ia bikin sendiri.  Biasanya terinspirasi dari kehidupan sosial masyarakat atau budaya lokal.  Ia kerap juga menggambar tema tumbuhan dan hewan lokal.

Cisadane ini adalah markas kampung batik pertama yang ia dirikan di Sigkawang. Konsepnya seperti kampung wisata,  dimana turis bisa berkunjung melihat proses produksi dan membeli oleh-oleh.  Terkadang wiatawan juga bisa menikmati atraksi budaya lokal bila bertepatan jadwalnya.  Kini sudah ada tiga kampung wisata yang ia dirikan.  Ia menamakan program ini dengan sebutan Kampung Wisata  Ragam Corak  Tiga Penjuru. Lantaran masing-masing memiliki kekhasan.  Kawasan di Jalan Cisadane adalah penjuru Singkawang Barat,  karena beralamat di Kecamatan Singkawang Barat.  Dua lagi ada di Nyarumkop, Singkawang Timur dan Sedau, Singkawang Selatan.

 Lokasi ketiganya  semuanya berdekatan dengan destinasi wisata utama Singkawang.  Singkawang Barat misalnya, selain menjadi jantung kota, juga terdapat pecinan yang menjadi  ciri khas Singkawang, yang berjuluk Kota Amoi.  Sementara  di Nyarumkop, penjuru Timur, adalah daerah perbukitan yang sejuk.  Mayoritas warganya beretnis Dayak.  Pusat kerajinan dan event budaya Dayak ada juga di sini.  Sedangkan  Sedau, di selatan, banyak komunitas Melayu dan Tionghoa.  Singkawang selatan merupakan kawasan pantai indah dengan pasir putih yang menghadap matahari terbenam. Juga ada kerjianan  tembikar yang terkenal, serta olahan ikan laut yang terkenal

Bina Anak Asuh dan warga setempat

Sebenarnya dari mana ide sociopreneur ini bermula ?  Awalnya seperti Sarjana baru padaumumnya, Priska yang wisuda tahun  2011, lansung melamar di sebuah perusahaan bonafit di Singkawang.  Sembari bekerja kantoran, ia juga membuka du butik.  Hasilnya lumayan. Ia mampu membeli kendaraan dan rumah yang kini menjadi markas Kampung Berseri.  Sampai tiba saat Priska merasa jenuh bekerja kantoran . Bahkan ia sampai stres hingga butik miliknya terbengkalai dan merugi.  Membatik lalu menjadi obatnya.

“Tahun 2013 saya resign dari pekerjaan karena merasa bukan passion.  Butik saya juga bangkrut,  Saya mulai mencari pelarian untuk menenangkan diri.  Salah satunya  adalah membatik yang saya pelajari saat kuliah di Jokja,” katanya.

Awalnya membatik hanya untuk hobi pelepas pening saja.  Lalu ia sadar, sebagai kota pariwisata dan kota multi etnis, ia melihat Singkawang bisa menjadi ladang untuk mengembangkan seni batik. Berbekal tabungan dan rumah kosong yang dibeli dari masa jayanya, Priska lantas mulai menularkan virus membatik ini ke berbagai kalangan.

“Tidak dengan harapan yang muluk-muluk, yaitu hanya bisa membatik, mengenalkan berbagai cerita tentang batik, dan mengajarkan. Ternyata sambutan dari masyarakat sangat baik.  Begitu banyak yang ingin belajar ke sini,” sebutnya.

Ia lantas membentuk komunitas membatik. Nama Priska pun mulai berkibar.  Karya-karyanya mulai diminati dan dibeli.  Tidak hanya oleh konsumen Singkawang, melainkan juga turis domestik dan asing.  Bahkan ia kerap mendapat kunjungan dari berbagai sekolah, instansi dan rombongan wisatawan.  Sekedar untuk tahu proses produksi  batik.  Priska  dan timnya juga rutin mengampanyekan  batik ke sekolah-sekolah, bahkan membina ekstrakurikuler membatik di SLB (Sekolah uar Biasa).

Lantaran dianggap sosok inspiratif, berbagai penghargaan dari tingkat daerah dan nasionalpun bertubi-tubi menghampirinya.  “ Ternyata semua itu menjadi candu dan membaa rezeki.  Tidak hanya buat saya sndiri,  tetapi mampu memandirikan saya dan orang di sekitar saya.  Yaitu teman-teman yang akhirnya menjadi tim dalam membangun kampung batik ini,” ungkapnya.  Lewat kampung wisata  itu pula, Priska tak cuma melatih membatik, na,mun juga mengedukasi  warga lokal untuk sadar wisata. Bahwa mereka punya sumber daya dan potensi besar yang bisa mendatangkan kemakmuran.

“Saya beruntung diterima dengan baik oleh warga, bahkan mereka sangat antusias untuk belajar membatik, terutama dari ibu-ibu dan pemudanya,” tuturnya.

Sudah ratusan orang yang belajar membatik dengannya.  Walaupun hanya sebagian  yang berhasil.  Mereka kebanyakan adalah warga sekitar kampung batik.   Pernah ia kedatangan rombongan ibu rumah tangga jumlahnya 28 orang.  BIasanya mereka membantu suaminya mencari nafkah dengan mengambil upahan mencabut panen kacang tanah, namu mereka mencari jalan yang tidak musiman, yaitu membatik.

Selama empat bulan program pelatihan, hanya 8 orang yang tuntas.  Belakangan yang melanjutkan membatik hanya dua orang.  “ Itulah proses.  Tetapi saya senang sekarang  saya tidak sendirian  membatik.  Sekarang ada banyak orang yang punya kemampuan  serupa di Singkawang ini,” ucapnya.

Selain mitra-mitra penduduk lokal,  kini  Priska  juga membina 21 anak asuh.  Mereka adalah para anak muda yang tertarik dalam dunia seni dan bisis.  Kebanyakan  lulusan SMA.  Ada juga yang putus sekolah.  Kebajakan berasal dari kalangan ekonomi kurang mampu .  Mereka diajari membatik hingga mahir .  Dari membuat sketsa hingga jadi produk akhir.  Tak sampai disitu, mereka juga dibekali  ilmu marketing.  Mereka  sering juga diikutkan dalam seminar seminar kewirausahaan.

“Apa yang mereka produksi, keuntungannya untuk mereka semua.  Lumayan untuk menambah penghasilan sekaligus menyalurkan bakat seninya.  Harapan saya, ini menjadi bekal untuk mereka agar kelak bisa membuka usaha sendiri, sehingga membuka lapangan kerja untuk orang lain.  Usahanya tidak harus di bidang kerajinan seperti ini.  Kini  sudah ada beberapa anak asuh saya yang mandiri,” imbuh sarjana Ilmu Ekonomi Universitas Atmajaya Yokyakarta ini.

Muhammad Juhdi (21) seorang anak asuh Priska mengaku beruntung bisa terlibat di kampung wisata ini.  Peranakan Madura-Tionghoa ini bisa menyalurkan  bakat melukisnya.  “ Senang akhirnya bisa bergabung disini.  Dari kecil saya  sudah senang menggamar dan melukis, tetapi tidak ada tmannya.  Di sini saya bisa berkumpul bersama banyak teman sehobi, dan bisa menghasilkan uang dari hobi itu,” ujar orang yang sebelumnya bekerja sebagai tukang bangunan tersebut.

Kini tamatan STM setempat ini tidak hanya membatik, dapat saran dari priska,  Judhi mulai mengembangkan jasa melukis sepatu sneaker sendiri.  Jasa lukis sneaker, terutama yang berbahan kanvas, kini mulai tren di Singkawang.

“Ada yang saya lukis pakai teknik ada yang dilukis kuas.  Walaupun hasilnya belum terlalu banyak, tetapi lumayan untuk menambah penghasilan kecil-kecilan,” ungkap Judhi.

Sumber : Pontianak Post