Pada zaman dahulu terdapat sebuah hutan lebat yang ditumbuhi pepohonan besar dan rimbun. Di hutan itu hidup beraneka macam hewan, seperti harimau, ular, bekantan, dan orang hutan. Setiap hari terdengar suara hewan-hewan itu bersahut-sahutan, raungan harimau, desisan ular, teriakan orang hutan dan kicauan burung menyemarakkan suasana hutan tersebut. Di sekitar hutan tersebut terdapat dua desa, yaitu Desa Sungai Baru dan Desa Puting Beliung.

Hari itu, matahari bersinar hangat di ufuk timur, embun yang menggantung di ujung dedaunan, kicauan burung terdengar merdu bersahut-sahutan menyambut pagi yang cerah. Orang-orang yang tinggal di dekat hutan tersebut, yang berasal dari berbagai daerah seperti Sungai Baru dan Puting Beliung berkumpul untuk membicarakan sesuatu. Mereka berencana membuka hutan itu menjadi sebuah desa.

Kepala desa berkata,”Bapak-bapak dan ibu-ibu kita berkumpul di sini untuk sama-sama berembuk mengenai rencana kepindahan kita.”

“lya, kami setuju akan rencana kepindahan kita, tapi kita pindah kemana?” sahut seorang warga yang bernama Aloi.

“inilah yang akan kita rembukkan Pak Aloi, bagaimana baiknya kepindahan kita itu dan tujuan kita pindah. Saya telah memikirkan hal ini bagaimana kalau kita membuka hutan saja? Tetapi, kalau ada warga yang memiliki usul lain yang lebih baik, silahkan saja.”

“Saya juga telah berpikir akan hal itu, Pak. memang hanya itu pilihan yang kita punya. Bila kita pindah ke tempat lain akan memakan banyak waktu, perjalanan yang harus kita tempuh juga jauh. Jadi saya setuju akan usul bapak,” ujar Pak Mude.

“lya, saya setuju,” sahut seorang warga.

“Setuju,” warga yang lain menimpali dengan bersemangat.

“Kami juga setuju, hutan itu subur. Kita akan sejahtera bila tinggal di sana. Desa kita ini tidak bagus lagi, gersang, mata air pun sering kering,” ujar penduduk yang lain.

Rencana membuka hutan tersebut dianggap sangat bijak sehingga semua orang setuju. “Baik…baik…bila sudah sepakat maka kita akan membuka hutan untuk dijadikan tempat tinggal baru kita,” kata Kepala desa dengan bijaksana.

Sedikit demi sedikit mereka mulai membersihkan pepohonan yang ada di hutan itu. Pohon-pohon besar mereka tebang, kayunya mereka jadikan bahan pembuatan rumah. Mereka bergotong royong membangun tempat tinggal untuk seluruh warga desa.

Mereka pun meninggalkan desa mereka, barang-barang mereka yang banyak dibawa menggunakan gerobak. Mereka sangat gembira karena cita-cita mereka untuk memilki tempat tinggal yang baru akhirnya terwujud. Mereka jalan beriringan menuju tempat baru itu dengan bersenda gurau, bernyanyi bersahut-sahutan, dan mengobrol dengan sesama mereka. Raut wajah gembira tampak pada wajah mereka. Gurat-gurat kelelahan di wajah mereka telah hilang tergantikan senyum.

Namun, setelah beberapa lama tinggal di desa itu, mereka tidak betah. Harapan mereka akan kehidupan yang baik telah sirna karena ternyata desa yang mereka bangun dengan susah payah itu angker dan menyeramkan. Mereka merasakan keanehan-keanehan, penampakan makhluk halus banyak berkeliaran. Bahkan, makhluk halus seeing mengganggu mereka siang malam. Hal ini membuat mereka tidak betah.

Malam itu begitu kelam, suara jangkrik terdengar diantara suara angin yang menderu-deru. Warga desa kembali berkumpul untuk membicarakan keanehan-keanehan yang sering mereka alami.

“Apa para warga desa merasakan keanehan yang terjadi? Setiap hari di rumahku selalu ada saja benda yang melayang di udara. Kadang sendok, kadang piring,” kata Pak Long, salah seorang warga desa yang telah berumur lanjut.

“Oi Pak Long, di rumah kami pun begitu. Bahkan kadang ada penampakan nenek ataupun anak kecil yang meringkuk di sudut kamar,” sahut Pak Mude dengan sura pelan.

“Di tempat kami sering terdengar suara orang yang menangis juga tertawa setiap saat. Aku jadi takut bila sendirian di rumah,” sahut seorang ibu dengan sedih.

“Kami sudah tidak tahan di desa ini, terlalu angker,” teriak salah seorang warga.

“Ya, benar. Saya juga sudah tidak tahan, desa ini begitu menyeramkan, masih mending desa kita yang dulu walaupun gersang tak pernah ada makhluk halus yang mengganggu” sambung Pak Aloi.

“lya, saya tidak pernah bisa tenang, makhluk halus itu selalu mengganggu siang malam,” kata seorang pemuda.

“Bagaimana kalau kita pulang saja ke tempat tinggal asal kita dulu.” Usul seorang bapak.

“Setuju,” teriak salah seorang warga.

“lya, kita pulang saja,” kata warga yang lain.

“Baiklah, kami setuju dengan usulan bapak. Rencana itu sangat bijak. Sekarang, kemaskan barang-barang dan pergi dari desa angker ini,” sambung kepala desa. Dari tadi ia hanya mendengarkan saja keluhan warga desanya. la merasa kecewa akan keadaan yang mereka alami.

Tanpa membuang banyak waktu, warga desa segera berkemas meninggalkan desa tersebut untuk kembali ke tempat asal mereka. Kali ini tidak ada lagi senda gurau dan tawa lepas hanya terlihat kesedihan dan kelelahan di raut wajah mereka.

Beberapa hari setelah kepergian mereka dari desa tersebut, datanglah sekelompok orang yang bukan berasal dari daerah sekitar desa itu. Mereka berasal dari tempat yang jauh. Mereka terlihat bingung ketika sampai di desa tersebut karena desa itu kosong tak berpenghuni.

“Akhirnya kita bertemu juga dengan sebuah desa. Hari demi hari yang kulihat hanya hutan belantara, kulihat juga rumah,” kata salah seorang anggota rombongan tersebut.

“Tetapi, desa ini aneh. Kemana para penduduk desa ini pergi? Satu pun tidak ada yang terlihat,” kata pemuda yang bernama Saung.

“Aku pernah mendengar kalau desa ini angker, banyak makhluk halus yang berkeliaran,” kata pemuda yang kedua.

“Mungkin mereka pergi dari desa ini, bukankah begitu?” tanya pemuda pertama.

“Ya, bisa jadi,” jawab pemuda kedua.

“Bagaimana kalau kita menetap dan merawat desa ini?” usul pemuda pertama.

“lya, kami setuju,” kata sekelompok orang pendatang tersebut.

Sekelompok orang yang baru tiba tersebut akhirnya menetap di desa yang telah ditinggalkan itu. Mereka tidak terusik oleh keanehan-keanehan yang ada, makhluk halus yang berkeliaran tidak membuat mereka gentar dan takut. Setelah beberapa lama tinggal di desa itu, beberapa orang mencoba untuk bercocok tanam, membuka ladang. Mereka menanami ladang tersebut dengan tanaman padi. Beberapa bulan kemudian, musim panen pun tiba. Mereka sangat gembira karena sebentar lagi mereka akan menikmati jerih payah mereka. Beramai-ramai mereka memanen padi yang mereka tanam dan rawat berbulan-bulan. Namun,mereka sangat kecewa karena hasil jerih payah mereka ternyata tidak sesuai dengan yang mereka harapkan.

Hasil panen padi yang seharusnya melimpah setelah dikumpulkan ternyata banyak yang tidak bagus, banyak yang hanya selongsongnya saja, isinya tidak ada/kosong. Panen padi itu tidak melimpah, hanya sepiring nasi. Oleh karena itu, desa angker itu akhirnya diberi nama Desa Sepinggan.

Catatan:
Cerita Rakyat di atas, merupakan salah satu dari 26 cerita rakyat dari Kecamatan Semparuk, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat yang terhimpun dalam buku dengan judul yang sama “Asal-usul Sepinggan”. Judul cerita rakyat yang lainnya, di ataranya, Asal-usul Kampung Selakau, Asal Nama Sambas, Asal Mula Batu Betarub, Semangka Emas, serta cerita rakyat yang lainnya yang diceritak secara turun-temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya. Selengkapnya, buku ini bisa dibaca di Ruang Deposit, Perpustakaan Provinsi Kalimantan Barat.

 

Pengarang

Nasiana, dkk

Judul

Asal-usul Sepinggan : Antologi Cerita Rakyat Semparuk

Edisi/Cet.

Cet. 1, Oktober 2016

Impresum

Pontianak : Balai Bahasa Kalimantan Barat, 2016

Kolasi

x, 95 hlm.; 21 cm

ISBN

978-602-60408-2-4
0Shares

Leave a Comment